Followers

Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Thursday, May 26, 2011

(10) hormatilah ulama, orang yang menasihati ke arah kebaikan

Asalamualaikum w.b.t

dah lama rasanya tak menulis. agak sibuk dengan keje.
laptop pulak tiada disisi.susah la jugak nak online.
apatah lagi nak menulis.

dah lama rasanya nak menulis artikel ni.
akhirnya, dengan peluang yang ada, maka artikel ni pun ditulis akhirnya.
oh.mungkin artikel ini agak serius.sebab hal ini memang dianggap serius.
dan tak boleh di S.I.M.P.L.E kan. 

Ulama..
Ustaz dan Ustazah..
siapakah mereka ini?
semasa kecik-kecik, kita diajar di sekolah agama.
untuk menghormati ustaz dan ustazah.
tak lupa juga para guru. (selamat hari guru...mungkin agak lambat untuk buat artikel khas untuk guruku sekalian.ada rezeki pasti artikel tu akan ditulis..;) cuma mungkin bukan dalam masa terdekat. )

okay.okay..berbalik pada cerita asal.
ulama merupakan pewaris nabi.bukan nabi ya semua. tapi, pewaris yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad S.A.W. untuk mengajak manusia ke arah kebenaran dan bersaksi bahawa Allah ialah tuhan yang satu dan Nabi Muhammad itu pesuruh Allah. dan tiada lagi nabi sesudah Nabi Muhammad S.A.W. 

Selepas kewafatan Nabi, siapa agaknya ya yang akan meneruskan menyebarkan syiar Islam jika bukan para ulama? Para ulama sendiri diberi pengiktirafan oleh Nabi. Ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad S.A.W

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

Betapa tingginya pengiktirafan yang diberi oleh nabi. Tapi, persoalan yang ingin ditimbulkan disini ialah sejauh mana generasi kita hari ini menghormati para ulama dan mereka yang menasihati ke arah kebaikan?
bukanlah artikel ini ditulis untuk menghina sesetengah pihak tapi diri ini terkilan.sangat terkilan bila melihat ada sesetengah pihak yang merendah-rendahkan para ulama dan mereka yang saling nasihat-menasihati ke arah kebaikan.




Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan hal ini dalam sabdanya yang diriwayatkan Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash, katanya: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)
Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: Asy-Sya’bi berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat sampai ilmu menjadi satu bentuk kejahilan dan kejahilan itu merupakan suatu ilmu. Ini semua termasuk dari terbaliknya gambaran kebenaran (kenyataan) di akhir zaman dan terbaliknya semua urusan.”
Di dalam Shahih Al-Hakim diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfu’ (riwayatnya sampai kepada Rasulullah): “Sesungguhnya termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah direndahkannya para ulama dan diangkatnya orang jahat.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 60)
Sejujurnya, aku melihat.dan pasti kalian juga melihat.tapi, adakah sekadar melihat? aku membaca kisah para ulama terdahulu yang di seksa, dipenjara, dihina. Hanya kerana cuba mempertahankan yang hak dan mecegah kebatilan. Itu semua berlaku pada satu ketika dahulu, pada zaman kegemilangan Islam. Zaman dimana sistem kekhalifahan masih berdiri megah di muka bumi Allah ini. dan ia masih lagi berlaku sekarang, di zaman kita kehilangan seorang khalifah yang tugasnya melindungi umat islam di seluruh dunia dan memegang panji-panji islam dan seterusnya mengajak umat manusia menyembah Allah yang satu iaitu agama Islam. 

Apa lagi yang ada untuk kita, jika pengaruh ulama di dalam masyarakat sendiri direndah-rendahkan, Jika kita menyelusuri sejarah, ulama di lemahkan sendiri oleh mereka yang kononnya berjuang untuk agama dan akhirnya khalifah Islam  Uthmaniyah yang terakhir dihalau dari istananya sendiri oleh orang yang dulunya menyatakan perjuangan mereka kearah islam. tapi, mengubah sistem yang ada atas dasar sekularisme dan kononya sistem khalifah tidak lagi relevan serta berlaku penyalahgunaan kuasa oleh seorang khalifah.Masya-Allah. Kita hanya mampu membaca fakta yang ada dan meratapi apa yang generasi terdahulu lakukan.
 Bersediakah kita untuk berubah dan mengubah sejarah duka ini? 

maaf.tapi, aku sangat benci dengan orang yang memperkecilkan ulama, ustaz, dan orang-orang yang menyeru ke arah kebaikan.seseungguhnya, "amal makruh, nahi mungkar" harus diamalkan dalam kehidupan seharian kita. mungkin, orang yang menasihati kita ke arah kebaikan itu kurang baik dari segi akhlak atau dipandang tak layak untuk memberi nasihat. Tapi, ingatlah setiap umat islam itu bersaudara dan tugas saudara adalah menasihati saudara seagamanya jika dia melihat saudaranya melakukan perkara yang salah. Terima dengan hati yang terbuka dan bukan memperli, mengherdik orang itu. Mungkin dia menasihati dengan cara yang agak keras dan kita kena ingat setiap orang itu berbeza dan ada juga orang yang cara penerimaannya berbeza.itu kita semua sedar dan sepatutnya kita sedari. 
 Prinsip aku; sekali tak mengapa, dua kali peluang masih terbuka, tiga kali peluang sudah diberi. empat kali dan seterusnya hanya ketegasan dalam mempertahankan mereka yang akan aku lakukan. maap, ini prinsip hidup aku. kita hidup hanya sekali didunia. kebahagiaan dan kejayaan di dunia dan akhirat yang kita tujui. dalam menuju kearah itu, utamakanlah yang utama, akhirat itu yang lebih utama. Moga kita terus nasihat-menasihati ke arah kebaikan dan terus memperbaiki diri untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik.
"jadikanlah hari ini lebih baik dari semalam, dan esok lebih baik dari hari ini."

Nota Baca: jangan jadikan kepentingan diri, politik untuk meninggalkan agama dalam kehidupan. Untuk apa yang kita ada di dunia jika di kemudian hari harta, pangkat, cinta (ek?), dan apa saja dunia tidak akan kita bawa ke liang lahad bersama. renungkan ^_^
Nota Fikir: tengah memikirkan untuk menulis beberapa artikel wajib untuk tarikh tertentu. senang sikit nak jadikan rujukan. 
Nota Kesimpulan: Simplekan kehidupan, jangan simplekan pemikiran ;)



Friday, May 6, 2011

(6) Kedudukan Wanita di dalam Islam


  Islam sangat menghormati wanita. Baik sebagai seorang ibu,seorangisteri, atau pun seorang anak. Bahkan juga sebagai seorang kawan dan anggota masyarakat pada umumnya.
Perintah untuk menghormati para wanita tersebar di mana-mana. Di dalam Al-Qur’an dalam bentuk firman-firman Allah, di hadits-hadits Rasulullah saw,atau pun di berbagai perilaku yang dicontohkanoleh para sahabat nabi. Islam adalah agama yang sangat menghormati wanita.
Suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: wahai rasul, siapakah orang yang harus saya hormati di dunia Maka Rasulullah menjawab: ibumu. Setelah itu siapa lagi ya Rasul? Rasulullahmenjawab lagi: ibumu. Setelah itu siapa? Dijawab lagi: ibumu.Dansetelah itu siapa? Barulah Rasulullah menjawab: bapamu.
Hadits ini sungguh luar biasa. Di tengah-tengah periakuan biadab masyarakat lelaki terhadap perempuan seperti yang kita bahas sebelum ini, Rasulullah justeru memberikan jawaban di atas. Bahwa orang yang harus paling kita muliakan dan kita hormati adalah seorang wanita: ibu kita. Kalau pertanyaan seperti itu ditujukan kepada masyarakat Arab pada waktu itu, pasti jawabnya terbalik 180 derajat. Bahawa orang yang harus dimuliakan dan dihormati adalah ayah. Sama sekali bukanibu. Karena seorang lelaki adalah kebanggaan keluarga. Pelindung keluarga. Penafkah keluarga. Dan pahlawan keluarga. Tetapi Islam menyebut ibu. Yang karena dialah kita ada. Tidak mungkin seorang diri, lelaki bisa memiliki anak. Akan tetapi, bagi seorang wanita, ia bisa memiliki anak meskipun tanpa ayah. Ini dibuktikan dan diabadikan oleh Allah dengan lahirnya Isa ibn Maryam.Yang dalam ilmu kedokteran disebut sebagai kelahiran parthenogenesis. Kelahiran bayi dari seorang ibu tanpa lewat proses perkawinandengan seorang ayah. Ayat-ayat Al-Qur’an sendiri banyak yang memberikan dorongan kepada kita untuk menghormati orang tua, khususnya ibu. Ketika bercerita tentang ibu Allah memberikan stressing bahwa beliau telah bersusah payah mengandung, melahirkan, menyusui dan mendidik kita sampai dewasa. Karena itu, sungguh tidak tahu diri jika kita mengabaikannya begitu saja. QS. Al Ahqaaf (46): 15 Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuatamal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yangberserah diri". Agar kita bisa menghargai orang tua, maka Allah mengingatkan kepada kita bahawa suatu saat kita pun akan menjadi orang tua seperti mereka.Kalau kita tidak bisa menghargai dan menghormati orang tua, maka anak-anak kita pun tidak akan menghargai kita, saat kita sudah tua renta kelak. Sungguh menyakitkan...! Ya, anak-anak kita bakal memperlakukan kita seperti mereka melihat kita memperlakukan orang tua kita. QS. Al Israa' (17): 23 Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Mana ada ajaran sedetil ini tentang perlakuan anak kepada orang tua yang dimuat di kitab-kitab selain Qur'an. Begitu jelas dan gamblang Allah membela kaum wanita, dalam hal ini ibu kita. Jangan hanya melihatnya sekarang, ketika penghargaan kepada wanita sudah jauh berbeda dengan jaman itu. Cobalah lihat perjuangan Islam ini dalam rentang waktu yang panjang dalam sejarah peradaban manusia. Dan peradaban ketika Islam ‘terlahir’ ke muka Bumi. Maka, kita akan memperoleh kesimpulan yang sangat mengesankan tentang peranan Islam dalam mengangkat martabat kaum ibu. Bukan hanya kepada ibu, Islam juga memberikan contoh kepada kita agar memperlakukan anak-anak perempuan kita dengan baik dan penuh kasih sayang. Jangan seperti jaman Jahiliyah dimana seorang ayah tega mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Rasulullah saw adalah contoh konkret bagaimana seorang ayah bersikap kepada anak perempuannya. Suatu ketika, Fatimah datang ke rumah nabi. Ketika itu Fatimah sudah berkeluarga dengan Ali bin Abi Thalib. Waktu itu, Rasul saw sedang berbincang-bincang dengan para sahabat di rumah beliau. Mendengar anaknya datang, Rasulullah minta ijin kepada para tamunya untuk menyongsong puterinya ke luar pintu. Dirangkulnya Fatimah dan dicium pipinya penuh kasih sayang. Lantas dibimbing masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah ia didudukkan di kursi dimana Rasulullah sering mendudukinya. Dan kemudian mereka terlibat dalam pembicaraan lebih jauh. Dari adegan itu saja kita tahu, betapa sayangnya Rasulullah kepada puterinya. Bukan cuma sayang, tetapi menghargai. Seorang ayah keluar rumah untuk menyambut kedatangan puterinya, sambil meninggalkan tamu-tamunya. Bisa anda bayangkan betapa besar penghargaan beliau kepada sang anak. Bahkan ketika berbicara dengan puterinya itu, Fatimah didudukkan di kursi yang biasa beliau duduki. Sementara beliau mengambil posisi rileks tanpa kursi... Di kisah yang lain, Rasulullah pernah berdialog dengan seorang bernama Agra' ibn Habis. Ketika itu Agra' melihat nabi menggendong cucunya, Hasan ibn Ali sambil menciuminya penuh kasih sayang. Si Agra lantas berkata kepada nabi, bahwa ia memiliki sepuluh orang anak, akan tetapi tidak pernah mencium mereka sekali pun. Maka Rasulullah memandanginya beberapa saat, lantas berkata: "orang yang tidak mengasihi, tidak akan dikasihi..." Ya, begitulah. Rasulullah ingin mengajarkan cinta dan kasih sayang dalam pergaulan kita. Kepada siapa saja. Apalagi kepada istri, anak, dan cucu kita. Rasulullah mengatakan bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Di kali lain Rasulullah mengatakan bahwa orang yang paling baik akhlaknya itu adalah orang yang bersikap baik kepada keluarganya dan kepada istrinya... Selain itu, wanita juga memperoleh perlindungan dalam hal harta benda, ketika berumah tangga. Seorang suami diwajibkan untuk menafkahi istri dan anak-anak. Karena itu dalam harta suami, ada hak istri. Akan tetapi, dalam harta istri tidak terdapat hak suami. Sebagai contoh, adalah istri yang bekerja. Maka seluruh penghasilan yang diperolehnya sepenuhnya adalah milik si istri. Kecuali ia merelakannya. Maka tidak apa-apa si suami ikut menikmatinya. Apalagi jika si istri merasa, bahwa dia bekerja itu kan juga atas ijin suami. Namun demikian, secara hukum, Allah mengatur kewajiban menafkahi itu ada di pundak suami. Jadi, lagi-lagi Islam memberikan perlindungan kepada wanita dalam kehidupan berumah tangga. QS. An Nisaa' (4): 4 Berikanlah maskawin kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka ambillah pemberian itu, dengan senang hati lagi baik akibatnya. Selain dalam rumah tangga dan keluarga, Islam juga mengangkat martabat wanita dalam kehidupan sosial politik. Kita seringkali salah persepsi, memperlakukan wanita dalam hal ini. Padahal perbedaan derajat antara lelaki dan perempuan itu adalah dalam urusan rumah tangga. Bukan dalam kegiatan kemasyarakatan. Dalam kehidupan rumah tangga, Al-Qur’an memang menyebut lelaki memiliki kelebihan derajat satu tingkat. Namun ini dikarenakan si suami adalah penanggungjawab sekaligus pemberi nafkah keluarga. QS. An Nisaa' (4): 34 Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. Al Baqarah (2): 228 Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Ayat-ayat di atas seringkali dipakai sebagai landasan umum untuk menegaskan bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Di semua bidang kehidupan. Padahal, kalau kita cermati, ayat-ayat tersebut berbicara dalam konteks rumah tangga. Bukan konteks sosial kemasyarakatan. Memang di awalnya, Allah mengatakan bahwa lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Akan tetapi coba baca terus ayat itu, Allah memberikan alasan bahwa hal itu dikarenakan secara fitrah lelaki memiliki satu kelebihan (sebagaimana telah kita bahas di depan), sekaligus karena ia menafkahi keluarganya. Penjelasan itu semakin gamblang kalau kita membaca kalimat-kalimat selanjutnya dalam ayat yang sama, bahwa ayat ini membahas interaksi antara suami dan istri dalam sebuah rumah tangga. Demikian pula ayat selanjutnya, di bawahnya. Allah menegaskan, perempuan memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya, meskipun sang suami memiliki tingkatan satu derajat lebih tinggi, sebagai pemimpin rumah tangga. Dalam konteks interaksi sosial, Allah menempatkan laki-laki dan wanita secara seimbang. Kedua-duanya adalah sama di hadapan Allah. Yang membedakan hanyalah keimanan, ketakwaan, dan amal kebajikannya. Tak peduli dia laki-laki atau perempuan, kalau dia beriman, bertakwa dan banyak berbuat amal kebajikan, maka ia adalah hamba Allah yang tinggi derajatnya. Dan jika sebaliknya, ia adalah rendah di hadapanNya. QS. Al Hujuraat (49): 13 Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS. Al Bayyinah (98): 7 Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Dua ayat di atas memberikan gambaran itu. Bahwa semua manusia adalah sama, meskipun beda suku, bangsa, jenis kelamin, kekayaan, dan sebagainya. Yang membedakannya di hadapan Allah hanyalah kualitas takwanya. Di ayat berikutnya, Allah menjelaskan lagi bahwa orang yang paling baik itu adalah orang yang beriman dan banyak berbuat kebajikan. Tapi, apakah yang dimaksud dengan iman, kebajikan dan takwa itu? Agar kita memiliki persepsi yang sama, maka Allah pun menjelaskan tentang hal ini di berbagai ayat. Di antaranya adalah berikut ini. QS. Al Baciarah (2): 177 Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, menegakkan shalat (dalam perilakunya) dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. Sungguh luar biasa ayat di atas. Dengan membacanya kita jadi paham, bahwa iman dan takwa itu bukan cuma ritual menghadap ke barat atau ke timur saja, akan tetapi benar-benar perbuatan nyata dan membawa manfaat. Sangat erat kaitannya dengan berbuat kebajikan, kesabaran, menolong orang dengan harta, menepati janji dan sebagainya. Yang demikian ini bukan hanya berlaku bagi laki-laki. Tapi bagi semua manusia. Laki-laki maupun perempuan. Dan ini adalah ruang lingkup ibadah kita. Setiap muslim. Laki-laki maupun perempuan. Siapa saja yang benar imannya, benar takwanya, dan banyak berbuat manfaat untuk sekitarnya, dialah yang terbaik. Untuk lebih jelasnya, Allah mendetilkan lagi dalam berbagai ayat. Di antaranya adalah ayat berikut ini. QS. Al Ahzab (33): 35 Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. QS. Ali Imran (3): 195 Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik." Sebaliknya orang-orang yang berbuat jahat - laki-laki maupun perempuan - juga akan memperoleh hukuman yang adil. QS. Al Maa’idah (5): 38 Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Maka, kita harus proporsional dalam memahami persoalan gender ini. Jangan terlalu berlebihan untuk menyamakan wanita dengan lelaki. Tetapi juga jangan berlebihan merendahkan martabatnya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya, sesuai dengan fitrah yang mengiringinya. Bergantung di mana mereka berkiprah dalam kehidupannya

kredit to: daarut-taihiid
Nota Baca: Selalu saja kita membaca di akhbar-akhbar wanita menjadi mangsa keadaanapabila lelaki yang sepatutnya melindungi para wanita sebaliknya mengkhianati anugerah yang Allah turunkan dari tuluk rusuk kiri kita. Kes dera,cabul,zina,khalwat, rogol, anak luar nikah, manipulasi wanita di dalam perniagaan.
Nota Fikir: Sampai bila kita hendak terus bergelumang di dalam zaman jahilliah    moden ini? Kita sebenarnya lebih teruk dari orang-orang yang di zaman jahilliah dari segi moral. Bukan semua, tapi sebahagian dari masyarakat kita. selagi agama tidak dijadikan sebagai ad-din (cara hidup) iaitu cara hidup secara Islam. Selagi itulah kita terus bergelumang dengan pelbagai maksiat dan gejala sosial yang asasnya sangat mudah untuk kita tangani. HORMATI WANITA dengan MENJAGA KEHORMATAN MEREKA.
Nota Kesimpulan: Apa kata kita gabungkan semua kempen-kempen yang ada seperti kempen say no to couple, Kempen Tangisan Jiwa @ say no to pembuangan bayi, Kempen cegah maksiat di bawah satu trademark yang baru iaitu dengan HORMATI WANITA.

(5) Jika tak mampu, cukuplah hanya....


Ketika cinta kini hadir tidaklah untuk Yang Maha Mengetahui saat secercah rasa tidak lagi tercipta untuk Yang Maha Pencipta izinkanlah hati bertanya untuk siapa ia muncul dengan tiba-tiba.. mungkinkah dengan redhaNYA atau hanya mengundang murkaNYA..

Jika benar cinta itu kerana ALLAH maka biarkanlah ia mengalir mengikut aliran ALLAH kerana hakikatnya ia berhulu dari ALLAH maka ia pun berhilir hanya kepada ALLAH..

" Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran ALLAH." (QS. Adz Dzariyat: 49)

" Dan kahwinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkahwin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin ALLAH akan memampukan mereka dengan kurniaNYA." (QS. An Nuur: 32 )

" Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNYA ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNYA diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." ( QS. Ar Ruum: 21 )


Tetapi jika kelemahan masih nyata dipelupuk mata maka bersabarlah.. berdoalah.. berpuasalah..


" Wahai kaum pemuda, siapa saja diantara kamu yang sudah sanggup untuk menikah, maka menikahlah, sesungguhnya menikah itu memelihara mata, dan memelihara kemaluan, maka bila diantara kamu belum sanggup untuk menikah.. berpuasalah, kerana sesungguhnya puasa tersebut sebagai penahannya." ( Hadis )

" Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah satu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. ( QS. Al Israa': 32 )

Cukup cintai dia dalam diam..,
Bukan kerana membenci hadirnya.. tetapi menjaga kesucinnya bukan kerana menghindari dunia.. tetapi meraih syurgaNYA bukan kerana lemah untuk menghadapinya.. tetapi menguatkan jiwa dari godaan syaitan yang begitu halus dan menyelusup..

Cukup cintai dia dari kejauhan..,
Kerana hadirmu tiada kan mampu menjauhkannya dari ujian.. kerana hadirmu hanya akan menggoyahkan iman dan ketenangan.. kerana mungkin sajakan membawa kelalaian hati-hati yang terjaga..

Cukup cintai dia dengan kesederhanaan..,
Memupuknya hanya akan menambah penderitaan.. menumbuhkan harapan hanya akan membumbui kebahagiaan para syaitan..

Maka cintailah dia dengan keikhlasan..,
Kerana tentu kisah Fatimah dan Ali Bin Abi Talib diingini oleh hati.. tetapi sanggupkah jika semua berakhir seperti sejarah cinta Salman Al Farisi..??


".. boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." ( QS. Al Baqarah: 216 )

" Wanita-wanita yang keji adalah untuk lelaki-lelaki yang keji, dan lelaki-lelaki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk lelaki-lelaki yang baik dan lelaki-lelaki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (syurga)." (QS. An Nuur: 26 )

Cukup cintai dia dalam diam dari kejauhan dengan kesederhaan dan keikhlasan..

Kerana tiada yang tahu rencana Tuhan.. mungkin saja rasa ini ujian yang akan melapuk atau membeku dengan perlahan..

Kerana hati ini begitu mudah untuk dibolak-balikkan.. serahkan rasa yang tiada sanggup dijadikan halal itu pada Yang Memberi dan Memilikinya.. biarkan DIA yang mengatur semuanya hingga keindahan itu datang pada waktunya..


" Barangsiapa yang menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga ." (Umar Bin Khattab ra)